Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juni 2017

Menuju pada pribadi yang rahmatan lil alamiin


Dalam pemahaman Shiddiqiyyah tiga bulan yang utama dalam kalendar Hijriah yaitu Rajab, Sya'ban dan Ramadhan merupakan rangkaian bulan yang melambangkan syahadatain yaitu Laalaaha illa Alloh Muhammad Rasulullah. Rajab adalah bulannya Allah, Sya'ban adalah bulannya Muhammad dan Ramadhan adalah bulannya Allah.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yamg paling istimewa bagi umat Islam yang beriman. Selain karena pada bulan itu orang-orang yang beriman diwajibkan berpuasa, juga ada kewajiban zakat fitrah yang wajib dibayarkan oleh mereka ysng mampu dan bagi Shiddiqiyyah kewajiban untuk melaksanakan sholat Ied Fitri.

Pada saat yang bersamaan di Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ada tradisi mudik lebaran yang menurut cerita bermula sejak masa Pangeran Samber Nyowo melakukan perlawanan kepada penjajahan Belanda.

Ketika Bpk Kyai mengingatkan tentang hikmah di balik mudik lebaran, saya terdorong untuk ikut merenungkannya. Judul artikel ini sendiri merupakan kesimpulan saya pribadi dari upaya seluruh proses yang kita jalani sejak Bulan Rajab, Sya'ban sampai Ramadhan yaitu meneladani tugas Rasululullah Muhammad SAW sebagai Rahmatan lil 'alamiin. Kesimpulan ini saya dapatkan karena Ramadhan yang disebut bulan Allah melekat pada syahadat Rasul yaitu Muhammad Rasul Allah. 

Puasa

Kita semua tentu pernah melakukan perjalanan jauh fan bagaimana persiapan untuk melakukan perjalanan itu kita siapkan sejak azam/keinginan itu terbersit di benak kita. Mulai dari kebutuhan selama di perjalanan sampai mengenali jalur-jalur yang sebaiknya dilalui agar bisa sampai tujuan dengan tepat pada waktunya dengan selamat bukannya malah tersesat atau kemana-mana hingga tidak sampai ke tujuan.

Memperhatikan bahwa ujung perjalanan ruhani dari tiga bulan istimewa itu adalah kembalinya manusia kepada fitrahnya, maka sudah tentu seluruh rangkaian ibadah selama tiga bulan istimewa itu diharapkan bisa membawa kita ke tempat dimana kita bisa mengenali kembali jati diri kita, fitrah kita sebagai manusia. Maka bulan Rajab dan Sya'ban adalah bulan-bulan dimana kita mempersiapkan diri kita untuk melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman ruhani. Dan ketika memasuki bulan suci Ramadhan, saat itulah perjalanan mudik ruhani kita mulai.

Dan seperti orang yang telah jauh pergi meninggalkan kampung halamannya, langkah awal itu terasa berat meninggalkan tenpat tinggal kita terasa berat (bahkan ada yang memutuskan untuk tidak mudik) meski antusiasme begitu kuat. Namun kita tahu tempat-tempat yang kita lalui bukanlah kampung halaman kita. Demikian pula saat-saat di awal puasa, terasa berat menahan rasa lapar dan dahaga, menahan hawa dari sifat2 angkara. 

Dengan memandang puasa sebagai perjalanan mudik ke kampung halaman ruhani, sebagai orang tasawuf dalam berpuasa sudah semestinys kita tidak hanya berhenti pada sekedar menahan diri dari tidak makan, minum dan melakukan hubungan badan selama menjalankan puasa. Kita mestinya juga meningkatkan kualitas puasa kita pada tingkatan puasa khusus dan khususil khusus agar mendekatkan kita pada tujuan mudik ruhani ini.

Jadi saat kita menjalankan puasa yang lalu, adanya pertanyaan 'sudahkah ruhani kita merasakan semakin dekatnya kita pada kampung halaman ruhani yang ingin kita tuju?' hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Zakat Fitrah

Terkait dengan zakat fitrah paham Shiddiqiyyah memberikan ketentuan  zakat fitrah hanya untuk fakir miskin, berbeda dengan ketentuan yang umum di masyarakat. Dalam kaitannya dengan mudik ruhani, hal tersebut memiliki hikmah yang besar.

Saat kita melakukan perjalanan dhahir di dunia ini, umumnya kita membawa bekal. Ada yang begitu banyaknya sampai-sampai mereka malah terbebani dan direpotkan oleh bekal yang begitu banyak. Dalam perjalanan ruhani, kita justru diperintahkan untuk meringankan bekal.  Nabi Musa AS diperintahkan untuk melepaskan alas kakinya (QS 20:12). Sebuah hadits yang berasal dari Anas bin Malik mengisahkan bahwa suatu hari Rasulullah sambil memegang tangan Abu Dzarr dan berkata : wahai Abu Dzarr tahukah kamu bahwa suatu saat nanti ada rintangan yang amat sulit diatasi,yang tidak akan bisa melewatinya kecuali orang-orang yang ringan, kemudian sesorang berkata pada Rasul, Ya Rasul apakah aku termasuk 68:4) hari ini? Orang itu menjawab Ya, kemudian Rasul kembali bertanya : apakah kamu memiliki makanan untuk hari esok? Jawab orang itu Ya, Rasul bertanya lagi : apakah kamu memiliki makanan untuk hari lusa? Jawab orang itu Tidak, Rasul lalu bersabda : Jika engkau memiliki makanan untuk 3 hari, maka kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang berat.

Sedemikian rupa sehingga kondisi ruhani ketika mendekati akhir perjalanan diharapkan sudah sedemikian kosongnya dari semua hal yang bisa mengotori kesucian fitrah. Saat itulah zakat fitrah menemukan maknanya dalam rangkaian perjalanan mudik ruhani.

Saat kita menyerahkan zakat fitrah itu kepada fakir miskin, bisakah ruhani kita menyaksikan kefakiran kita di hadapan Allah Ta'ala yang Maha Kaya? Zakat fitrah sebagai proses pensucian diri adalah titik terendah kita sebagai manusia sebagai hamba, sebagai makhluk ciptaan di hadapan Dia Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta.

Manakala pengenalan ini telah terjadi, lantunan takbir adalah sebaik-baik bacaan yang patut kita gemakan dalam ruhani kita untuk memujiNya. Dan sholat idul fitri adalah sebaik-baik cara bersyukur yang bisa kita lakukan kepada Sang Maha Pencipta.  Allohu Akbar. Allohu Akbar. Allohu Akbar. Laailaaha illa Allah. Allohu Akbar. Allohu Akbar wal lillahil hamdu.

Pribadi Rahmatan lil alamiin

Allah Taala pemilik Ismul A'dzom (Nama yang Agung) telah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai pribadi yang berbudi pekerti yang luhur (khuluqil adzim) dalam QS 68:4.  Sebagai ummatnya kita diperintahkan untuk meneladaninya.

Pada diri Rasulullah SAW kita bisa mengenali fitrah kita sebagai manusia. Fitrah itu tercermin pada perbuatan baik Beliau yang mencontoh pada perbuatan Allah (QS 28:77).  Perhatikanlah, Allah Yang Maha Sabar suka pada orang-otang yang sabar. Allah yang Maha suci suka pada orang-orang yang mensucikan dirinya dari kotoran ruhani. Allah Yang Maha Penerima Taubat suka pada orang-orang yang bertaubat. Allah Maha Kaya suka pada orang-orang yang dermawan. Allah yang Maha Mensyukuri suka pandai orang-orang yang pandai bersyukur. Allah yang Maha Pemaaf suka pada orang-orang yang pemaaf. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang suka pada orang-orang yang suka mengasihi dan menyayangi. Allah yang Maha Mulia suka pada orang-orang yang menjaga kemuliaan martabat kemanusiaannya. Allah yang Maha Tinggi suka pada orang yang tawadhu', Allah yang Maha Terpuji suka pada orang-orang yang bersikap terpuji dan seterusnya. Sfat-sifat Allah yang kita kenal dengan istilah Asma-ul Husna bisa kita kenali pada diri hambaNya yang paling mulia, Rasulullah Muhammad SAW.

Akhlak yang baik adalah fitrah manusia. Sebagai fitrah, ia memberikan rasa kecocokan pada diri kita. Seperti kita merasakan kecocokan pakaian yang ukurannya pas di badan, ia nyaman dipakai. Tidak terlalu longgar yang membuat kita nampak jelek dan tidak terlalu ketat yang membuat kita merasa tertekan. Pilihan warnanya menyenangkan yang memberi pakaian, yang memakai maupun yang melihatnya.

Adalah doa yang sangat tepat yang diajarkan Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah ketika kita melakukan serah terima zakat fitrah. Yaitu doa Allohumaj'alni maghnaman wa laa taj'alni maghroman yang artinya Wahai Allah  jadikanlah aku  orang yang beruntung dan janganlah jadikan aku orang yang merugi. Keberuntungan itu bermacam-macam bentuknya. Dalam kaitannya dengan perjalanan kembali ke kampung halaman ruhani adalah dengan segera sampainya kita ke tujuan, dengan dilimpahinya ruhani yang telah terkosongkan dari segala bekal duniawi untuk kemudian diisi dengan kekayaan ruhani yang menggembirakan Sang Pemberi dan yang diberi. Karena jika mudik lebaran itu membawa kebahagiaan bagi para pelakunya, maka apalagi bagi mereka yang sungguh-sungguh menemukan kembali jalan pulang ke rumah ruhani tempat fitrah manusia berada. Menemukan jalan kembali dan bisa sampai ke kampung halaman adalah karunia yang tak ternilai hatganya.

Pakaian Takwa

Di masa lalu, saya masih ingat orang tua saya selalu memberikan pakaian baru untuk kami kenakan saat melaksanakan sholat Idul Fitri. Sebagian orang yang sudah makmur di jaman sekarang beranggapan tradisi itu tidak perlu dilestarikan, karena mereka bisa membeli baju baru di waktu-waktu yang lain tidak harus khusus untuk Idul Fitri. Sebagian orang beralasan tidak semua orang mampu membeli baju baru, sedang yang lain beralasan tidak ingin pamer baju kepada yang lain, dan alasan-alasan lainnya mereka sampaikan.

Dan saat menghadiri pelepasan zakat fitrah, saya sebenarnya agak heran juga karena panitia ada menyebutkan adanya penyaluran pakaian sebanyak lebih dari 1000 setel. Di badan-badan amil zakat yang pernah saya ketahui, belum pernah saya menemui pembagian pakaian masuk dalam kepanitian amil zakat fitrah. Saya baru tahu tentang hal ini. Dan saat melakukan proses perenungan di seputar tradisi lebaran, saya bisa memahami alasan adanya hal tersebut.

Al Quran menyebutkan bahwa sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa (QS 7:26). Adanya penyaluran pakaian dhahir dalam pembagian zakat fitrah adalah simbolisasi harapan agar pakaian ruhani kita juga tersucikan. Dan sebagaimana kita dianjurkan mengenakan pakaian terbaik saat melaksanakan sholat Ied Fitri, maka pada anjuran itu ada doa dan harapan agar kiranya kualitas ketakwaan kita dijadikan lebih baik dari sebelumnya.

Akhirnya, semoga kita semua dikembalikan pada fitrah kemanusiaan kita dan dijadikan kita sebagai orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
Taqobbalallohu minna wa minkum, taqobbal ya Kariim.

Rabu, 08 Februari 2017

Subtle love

I looked at you
Outside the room
And you slept peacefully. 

As you heard me
Visiting
You looked me up.

Finding me rested
Upstair
you greeted me then

Still with your sleepy eyes
I cuddled you close in my arm
And back you slept peacefully

No big words of Love
Just an expression
In moment of knowing

Jumat, 18 November 2016

Sad Conscience

This is what I have been doing for quite sometime. Detaching myself to avoid the loving feeling from those around me. Even my niece when she asked me to come home more often then asked me to give her a bath while I was rushing to catch the bus to go to Bali. I feel like crying in writing this. Leaving her at home while her mother somewhere else is a cold hearted act of me,  because I had my own agenda of helping other but not the one closest to me. 

I am a person incapable of loving other at best as I can be, because I am afraid to get hurt again. It is in my mind that I decide to give love to anyone on my term instead giving out my self whole hearted. I am afraid that it will be thrown back on my face. I preserve myself for being used by others and left to nothing but negativity.  As much as I tried to be sincere the past experience taught me to not giving myself all out. Some self preservation notion to detach myself from anything or anyone that asking for my attention. 

This situation reminded me of my dear friend when he told me he loved me but somehow I just couldnt give my self out. My mind has plagued me in such a way that I just couldnt say yes as I was thinking of our religious difference. I could and still can love him on my term but I am unable to fulfill his wish.

And as I looked within this experience  evoke my conscience. I really shouldn't do it to my little niece. For she is innocence in all her action. She wanted to show her loving gesture to me and that I am important to her. God,  I was a wreckedful sorry ass for such a heartless aunt. 

As I was waiting for the bus to go,  I could only cry for my deliberate ignorance and heartless act. I am really sorry baby girl.  You may not think much about it and probably have forgotten about it. But I am not and I won't be for sometime. As this sad and ugly conscience hopefully will direct me back to find my loving self.

Rabu, 09 November 2016

Kelam Berarak

Hari menuju kelam
Manakali mendung tebal datang berarak
Menutup matahari yang selalu benderang.

Sedikit yang peduli
Banyak yang acuh
Tersibukkan oleh dunia mereka.

Pemarah memimpin
Pembohong dipilih
Bahkan pemfitnah meraja.

Lalu kisah apa yang ingin kita ceritakan
Kala generasi mendatang bertanya
Tentang etika dan nilai kepemimpinan.

Kelam serasa semakin dekat
Kala pelita dunia semakin langka
Selamat sejahtera pun kuharap

Selamatkan kami wahai Sang Pelindung
Selamatkan kaum mukmin Oh Sang Pengasih
Terbitkan harapan bagi terangnya bangsa.

Juwana,  9 Nov 2016

Senin, 26 September 2016

Out of the box

Some years ago,  i had a thought of how someone just dont get me. A wonder why it was difficult to see beyond the boundary of our ideas and look into other people minds. Today,  I learned my lesson.

It happened in very simple way yet it may sound so stupid.  I mean,  i looked at an answer to the quiz that said 'my heart is useful'. My mode of thinking is philosophical and transcendental as I thought on so many things.  Then, all of the sudden,  my friend blurted out a rhethoric question. She asked me "Isn't all heart is useful?!"

That rhethoric question indeed told me something about me. I could see directly into her clear and simple mind, instead of my complicated one.  She saw the bottom line and go for it at the same time I saw my insecurity and procastination.  And i saw her wisdom and saw my stupidity.

It is a wake up call to the way I see things as in one direction instead of having so many layers and facets in accordance to whoever has their ideas into it.  Some may have similarity, some may have so contradictive point of views,  and some may have opposite ideas. It isnt limited to two sides of coin which is either true or false alone.

As this short enlightment hit me,  i could only laugh with her and admit my stupidity. 

Those who do not laugh, do not learn... My favorit quote from Tao Te Ching.

Rabu, 06 Juli 2016

Damai BersamaNya

Kau pilih untuk berpaling
Aku mengerti
Karena aku mengingatkan akan masa lalu itu

Kau relakan aku pergi
Aku mengerti
Karena tanpaku kau temukan damai itu

Engkau lepas aku tanpa berkedip
Akupun mengerti
Karena ruang itu dicipta bukan untukku

Kini aku berlega hati
Melihatmu tegak melangkah
Dalam damai bersamaNya
Karena Dialah yang kita tuju

1 Syawal 1437H

Senin, 18 Januari 2016

A sense of Direction

Somehow listening to the song brings back the bitter sweet feeling.

A faithful heart in the midst of all distraction and temptation.

Keeping the heart to be in faith isn't as easy as writing it.

It takes courage, knowledge, determination and trust to the Unknown.


To be alone yet not so lonely.

To be in silence even in the crowd.


To learn and have the ability to listen to the unspoken words.

To read and have the ability to see the big sign in the universe.

To get ready and be ready to experience the magic of the running river meeting the ocean.


In its gentle sway, the river whisper her devotion to the ocean...

Your love has led me to you.

For that I eternally love you












Senin, 30 November 2015

Happy Birthday to me

Today is my birthday. Another chapter of my life is closed and the end is getting closer. And this is not a sad note on a birthday. This is just a reality check on how time and life has been handed to me.

As celebration may be expected by many and the wish of happiness is sent my way, I don’t really celebrate it in the way that people may think of. I took liberty of being lazy and actually almost forgot that today was my birthday.



Rabu, 11 November 2015

The Voice of Death

Somehow, that is how I feel about the past few months that happened to me. The last straw was the news I received this afternoon. How I come up with the title is because that's how I see my recent life experience. I may be sad in writing this, but I am learning my lesson.

I understand death may be scary to some people. I accept death as a mere act of stepping from one room to another room with no turning point. So yeah, it takes preparation and it take courages to face the angel of death when time comes. And what do we prepare for its coming? How do we prepare ourselves in welcoming it? I am not about to answer those two questions though. It is a mere question to awaken our conscience in living this life.



So here is the story that unfolded in front of me.

Jumat, 25 September 2015

In memoriam Bpk Abdul Choliq

Namanya adalah Abdul Choliq,  hamba Sang Pencipta. Aku mengenalnya dan menerimanya sebagai seorang guru ruhaniku sejak aku kembali ke Jawa Timur tahun 2003 setelah mulai belajar di Thariqah Shiddiqiyyah pertengahan tahun 2000.



Dengan kemampuannya memandang yang batin, tidak banyak yang bisa aku sembunyikan dari Beliau. Seringkali aku hanya bisa diam dan membatin bila datang bersilaturahmi kepada Beliau dan itupun tidak terlalu banyak. Seringkali hanya bisa tersenyum malu atas pertanyaan-pertanyaan yang Beliau ajukan, yang tak mampu aku menjawabnya. Beliau membimbing aku melalui ibadah dan mengajarkan aku untuk tidak putus asa dengan dzikir-dzikir yang disarankan di saat yang tepat,  setelah melihat batinku. 

Bersama Beliau dan rekan-rekan DPP Organisasi Shiddiqiyyah
dalam kunjungan kerja ke Lampung Tengah
Pesan pertama di pertemuan pertama kami adalah 'aku masih dibutuhkan orang banyak.'. Sebuah jawaban atas pertanyaan batin yang tak sempat kuucapkan dan tidak kuduga  di saat aku justru berniat menarik diri dari kehidupan organisasi dan keramaian. Pesan yang lainnya kembali disampaikan setelah acara MUNAS ORSHID di Magelang akhir Agustus 2007. Saat aku pikir semua urusan persidangan selesai dan aku kembali ke kehidupan pribadi aku. Ternyata pesan itu adalah petunjuk untuk tanggung jawab organisasi dan peran yang aku terima berikutnya di Organisasi Shiddiqiyyah.

Kesempatan bersama Beliau datang saat kunjungan kerja ke Daerah-daerah. Sosok Beliau yang santun, pengetahuan batin yang menembus hijab, tawadhu' Beliau dan penghargaan pada anak-anak muda yang mengabdikan dirinya untuk perjuangan adalah kesan mendalam tentang Beliau yang tak mungkin hilang dari ingatan. Senyum kecilnya dan gurauan yang menyentil kesadaran menjadikan Beliau guru sekaligus ayah bagi banyak anak-anak muda yang mendampingi perjuangan Beliau.

Ada pesan pribadi yang masih tertinggal dalam diri ini. Sebuah amalan terakhir yang diajarkan kepadaku di kunjungan aku terakhir kalinya saat Beliau sakit.  Hingga kini pesan itu masih tetap aku jalani. Ada beberapa hal yang tak pernah kuungkap dalam kata-kata,  namun tertangkap oleh batin Beliau yang bersih.  Senyum kecil sambil menunduk di antara pesan yang Beliau sampaikan menjadi tanda sambungnya batin seorang murid dengan gurunya.  Dengan kembalinya Beliau ke hadirat Ilahi, seolah rahasia batinku terbawa pergi bersama putusnya harapan dan keinginanku agar suatu saat nanti Beliau berkenan menikahkan aku dengan cara Shiddiqiyyah.

Pelita itu kembali ke alam keabadian
Guru besar kami,  Mursyid Thariqah Shiddiqiyyah Bpk Kyai Moch Muchtar Mu'thi selalu mengingatkan, "Usia manusia memang sangat terbatas, namun usia perjuangan jauh lebih panjang dari usia manusia." Bpk Abdul Choliq telah meninggalkan dunia yang fana ini,  kembali ke alam kelanggengan dalam kalimat Laa Ilaaha Illalloh. Tapi cita-cita perjuangannya tak akan pernah mati. Dalam batin dan semangat kami,  murid-murid yang telah dibimbing Beliau dengan penuh kasih sayang, cita-cita dan harapan bagi tegaknya kalimat Laa Ilaaha Illalloh semoga terus menginspirasi kami untuk bergerak dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh alam.

Pesan Guru besar kami mengiring bepergian jenazahnya, juga memperjelas kedudukan Beiiau di sisi Allah Azza wa Jalla. Nafas Beliau adalah Laa ilaaha illalloh, hidup Beliau adalah dalam laa ilaaha illaAlloh. Dan tak ada kebahagiaan yang paling hakiki, selain kembali ke dalam laa ilaaha IllaAlloh. 

Selamat jalan Bapak. Tiada kebahagiaan bagimu selain keridhoan hadiratNya. Semoga daya ruhanimu senantiasa mendampingi kami menjalani perjuangan melanjutkan cita-citamu.  Segala puji bagi Allah yang telah mengijinkan aku untuk mengenalmu dan menjadi bagian dari murid-murid yang engkau bimbing.  

Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Allohummaghfir lii Bapak Abdul Choliq warfa' darojatahu wafsah qobrohu wa nawwir fii qobrihi. 

Beliau kembali ke alam kelanggengan pada 7 Dzulhijjah 1436H / 21 September 2015M


Minggu, 16 Agustus 2015

Recovering The Passion

You may have noticed that it's been months almost a year that I haven't posted anything here. And you may wonder why.  A cliche to say that I was busy and drain myself on something else. Then something else also working within that is trying to change and be of something else. Of course I have no one to blame and definitely not God though some devilish voice at the back on my mind tried to push me there. I take refuge to Allah from the devilish mind.

Minggu, 04 Januari 2015

Pemilik 12

Sepanjang jalan kuingat engkau
Sepanjang hari kuiring dalam senandung
Dalam sadar kuucap salam
Dalam diam kuserap daya

Meneladani keutamaan
Paduan hamba dan kepercayaan
Kesempuraan lahir dan batin
Wahai engkau pemilik 12

Allohumma sholli alaa Muhammadin wa sallim.

Jombang, 12 Rabiul Awwal 1436H

Kamis, 23 Oktober 2014

Hope

A phone call came
From an arabic man
Asking for help
For his urgent item

A name was asked
And a short chat began
He told me the meaning
Of my name in arabic

Hope is the meaning
And hope is his wish on me
So is the wish of others
As I thought over

Being in hope, people act
In it there is expectation
To meet its purpose
In fulfilling the wish

And being the hope,
something requires
A sincerity and willingness to help
A wisdom and clarity to act

As deadline's getting closer
The despair and the hope are
Fighting within
Struggling to win

And hope wins
As a fulfilled promised
A service is delivered
Along with a smile of contented heart

Sabtu, 04 Oktober 2014

Liberation

Joy is intoxicating
A weightless heart is flying high
Yet, firmly rooted it is to this moment
Limitless is the pulse of growing

Just like horizon have no boundary.
In the brightness world of love,
So wide is the sky to roam free
Effortless is my pace to be.

The bird is flying free
Liberation is its nature
The wings are there for a reason
It is a symbol of heavenward

Jumat, 29 Agustus 2014

Hakikat Pengajaran

Belakangan ini pelajaranNya adalah tentang pengajaran. Paling tidak itulah kesimpulan saya membaca keping-keping pengalaman yang terangkai dalam dua minggu terakhir. Saya ingin menuliskan ini saat menonton kisah Mahadewa yamg berlatar belakang cerita yang berkembang di agama Hindu. Film itu sedang diputar di ANTV sejak beberapa waktu yang lalu dan sampai kini serialnya masih berlanjut.



Rabu, 20 Agustus 2014

The Embodiment of Creative Manifestation

Last week I was thinking about an article I was preparing. Somehow in the middle of that thinking process, I was reminded to a booklet I brought from Bali two years ago. So I then looked for the booklet and read it.

Jumat, 01 Agustus 2014

Cerita Hati

Minggu lalu, setelah bertafakur tentang qolbun saliim di artikel sebelumnya, saya memutuskan untuk menuliskan pemahaman saya tentang hati sebagai artikel tersendiri. Maka inilah adanya.

Saya merasa perlu memisahkannya karena saya menyadari ada beberapa aspek yang menurut saya perlu dituliskan guna menjelaskan beda kata yang satu dengan kata yang lain. Seperti saya tulis sebelumnya bahwa Al-Quran menggunakan kata-kata yang berbeda untuk menunjukkan istilah hati pada manusia.

Mari kita awali keterangan ini dengan menyajikan pelajaran yang saya terima dari guru Self Knowledge saya, Mr. Prem Rawat.

Selasa, 22 Juli 2014

Qolbun saliim

Ada hal menarik yang saya dapati saat membaca posting di dinding beberapa teman saya seputar pemilihan capres RI1 tahun 2014-2019. Dan ini membuat saya berpikir bagaimana bisa seperti ini. Saya yang sebelumnya berpikir mereka adalah orang-orang yang baik dan benar serta berusaha sungguh-sungguh menjadi seorang yang baik dan benar bagaimana bisa sampai tercemari cara berpikir dan ucapannya (dari apa yamg mereka tuliskan di dinding mereka) seperti itu.  


Saya tahu saya tak berhak menilai mereka. Namun akal saya tidak bisa tidak untuk berhenti dan menganalisa letak kelirunya agar saya bisa mengambil pelajaran dan tidak terjerumus pada kondisi yang sama. Na'udzubillahi min dzalik. A'udzubillahi minasy syaithoonir rojiim. Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.


Senin, 30 Juni 2014

Kampanye pilpres dalam perspektif tasawuf

Satu atau dua bulan terakhir ini, negeri ini sedang diramaikan oleh kampanye pemilihan presiden masa bakti 2014-2019 yang akan digelar pemilu-nya pada tanggal 9 juli nanti. Saya merasa perlu menuliskan sudut pandang saya sebagai pembelajaran dari Gusti Allah. Apalagi belakangan saya juga sedang kembali tertarik dengan kisah Mahabharata yang serialnya sedang tayang di ANTV.

Minggu, 08 Juni 2014

Meraih berkah Rajab melalui Organisasi

Masih seputar kepemimpinan. Melanjutkan topik sebelumnya. Saya akhirnya harus mengubah materi pelatihan yang saya sampaikan dalam acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Jam'iyyah Kautsaran Putri Haajarullah Shiddiqiyyah (JKPHS). Hal itu setelah mendapat masukan dari Ketua Umum saya untuk menyampaikan materi yang merujuk pada sholat berjamaah. Setelah mencari beberapa artikel dan merefleksikan pengalaman pribadi saya dalam berorganisasi, saya buat format PowerPoint. Uji coba presentasi saya sampaikan saat saya diminta mengisi kelas manajemen dan keguruan yang waktu itu pengajarnya berhalangan hadir. Jadilah materi itu sebagai motivasi kepemimpinan.