Satu atau dua bulan terakhir ini, negeri ini sedang diramaikan oleh kampanye pemilihan presiden masa bakti 2014-2019 yang akan digelar pemilu-nya pada tanggal 9 juli nanti. Saya merasa perlu menuliskan sudut pandang saya sebagai pembelajaran dari Gusti Allah. Apalagi belakangan saya juga sedang kembali tertarik dengan kisah Mahabharata yang serialnya sedang tayang di ANTV.
Upaya merangkai mutiara-mutiara kehidupan dan kejadian diri menjadi untaian bunga rampai kebijaksanaan sebagai sembah dan puja bagi Penguasa Semesta
Tampilkan postingan dengan label tradition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tradition. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 Juni 2014
Rabu, 01 Januari 2014
Retaining the Good
Yesterday, my colleague came to my office while I was in the middle of noon prayer. She asked ome of the staff about the text message she received from the boss. It was an answer to her question sent to her mobile whether the company was going to have new year holiday or not. And the answer was "Go ahead, just have your holiday." in bahasa Indonesia of course. In receiving the message, she found it pretty confusing. So she tried to get second opinion (actually not just a second, but third, forth and fifth opinion of others since she showed the message to some other as well) whether it was a genuine 'yes' or a sham of 'no' answer.
I found this situation quite intriguing. Because for me it is quite simple. It is a yes answer, but to her it could have double meanings. A yes as it was genuinely written or a no with some scheming planned behind the yes answer, like some action of fatale femme in ensnaring her victim I watched the other night.
Selasa, 24 Desember 2013
Pilihan atas Tindakan
Sekitar bulan Desember tepatnya tgl 25 Desember, beberapa orang yang mempunyai kerabat, sahabat dan teman Nasrani mungkin mengalami kebingungan dalam bersikap untuk mengucapkan "Selamat Natal". Ini terjadi karena ada sebagian ulama yang mengharamkan pemberian ucapan itu dan ada sebagian kecil yang membolehkan termasuk diantaranya adalah alm. Gus Dur (Abdul Rahman Wachid) salah seorang presiden negeri ini. Gus Dur merupakan figur ulama moderat sekaligus negarawan yang membantu negeri ini menuju pada kehidupan beragama yang bebas dengan saling menghormati keyakinan masing-masing. Salah satu jasanya adalah memasukkan agama KongHuCu menjadi bagian dari agama yang diakui di Indonesia. Sebelumnya, para penganut Nabi KongHuCu utamanya dari kalangan orang-orang China hanya bisa mencantumkan salah satu dari lima pilihan agama yang ada yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholic, Budha dan Hindu.
Senin, 22 April 2013
Breathing Life into Meanings
| red porridge - an embodied meaning |
Langganan:
Postingan (Atom)